Tokoh-Tokoh Fiktif yang Disebutkan dalam Sejarah Hadramaut
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya ﷺ. Selanjutnya:Karena sejarah Hadramaut mengalami banyak masalah dan kekurangan informasi yang sangat besar akibat hilangnya sumber-sumber sejarah dan lenyapnya referensi, maka hilangnya sumber-sumber ini memberikan kesempatan kepada pihak-pihak yang berniat buruk dari kalangan orientalis dan murid-murid mereka untuk menciptakan sejarah palsu dan khayalan bagi mereka. Mereka membuat cerita-cerita fiktif dan tokoh-tokoh yang tidak memiliki eksistensi nyata dalam realitas Hadramaut. Karena apa yang mereka sebutkan bukanlah sejarah yang benar, maka mereka terjatuh ke dalam kontradiksi-kontradiksi yang tidak dapat dihindari oleh para penulis sejarah khayalan yang palsu ini.
Maksud dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan sebagian tokoh yang disebutkan dan beredar di beberapa kitab sejarah Hadramaut, padahal mereka tidak memiliki eksistensi nyata di Hadramaut. Bisa jadi tokoh tersebut sama sekali tidak ada, atau memang ada tetapi di luar Hadramaut, lalu pihak-pihak yang berniat buruk yang berbicara atas nama sejarah memasukkannya dengan tujuan tertentu. Di antara tujuan tersebut adalah karena hilangnya sumber sejarah yang menciptakan kekosongan besar, maka datanglah orang-orang yang berniat buruk ini untuk mengisi kekosongan tersebut dengan tokoh-tokoh fiktif. Hal ini membawa dampak negatif yang sangat besar bagi Hadramaut dan sekitarnya, karena menyebabkan lenyapnya fakta sejarah yang benar dan menggantinya dengan khayalan-khayalan ini. Mari kita mulai menyebutkan sebagian tokoh yang ingin kita tunjukkan.
Makam Nabi Hud (yang diklaim)
Yang terkenal dengan ziarah tahunan yang bersifat syirik, bid’ah, dan penuh khurafat. Ini berdasarkan anggapan bahwa Nabi Hud عليه السلام hidup, wafat, dan dimakamkan di tempat itu. Namun tidak ada dalil sama sekali dari Kitab Allah, Sunnah yang shahih, maupun perkataan para salaf yang terpercaya. Klaim bahwa tempat makam itu adalah Al-Ahqaf hanyalah pendapat tanpa bukti. Di zaman kita, ditemukan di Oman bekas-bekas rumah yang dikatakan milik kaum ‘Ad, dan Oman termasuk dalam wilayah Al-Ahqaf. Ada yang mengatakan makam Hud di Makkah, ada pula yang mengatakan di Syam. Ini menunjukkan bahwa klaim Nabi Hud hidup dan dimakamkan di Hadramaut hanyalah khurafat tanpa dasar.
Syaikh Al-Mu’allim berkata: “Kami dengan tegas menolak adanya bukti bahwa makam itu benar-benar ada di tempat tersebut, sebagaimana telah ditegaskan sebelumnya oleh sejumlah sejarawan.”
(Lihat: Al-Quburiyyah, hlm. 386)
Ziarah ke makam yang diklaim ini termasuk sebab terbesar rusaknya ajaran Islam dan dakwah tauhid yang dibawa Nabi ﷺ sepanjang hidupnya, serta mengganti agama yang benar dengan agama khurafat dan akidah yang rusak. Kolonial Inggris Kristen, pada masa pendudukan di Arab Selatan,
Yang terkenal dengan ziarah tahunan yang bersifat syirik, bid’ah, dan penuh khurafat. Ini berdasarkan anggapan bahwa Nabi Hud عليه السلام hidup, wafat, dan dimakamkan di tempat itu. Namun tidak ada dalil sama sekali dari Kitab Allah, Sunnah yang shahih, maupun perkataan para salaf yang terpercaya. Klaim bahwa tempat makam itu adalah Al-Ahqaf hanyalah pendapat tanpa bukti. Di zaman kita, ditemukan di Oman bekas-bekas rumah yang dikatakan milik kaum ‘Ad, dan Oman termasuk dalam wilayah Al-Ahqaf. Ada yang mengatakan makam Hud di Makkah, ada pula yang mengatakan di Syam. Ini menunjukkan bahwa klaim Nabi Hud hidup dan dimakamkan di Hadramaut hanyalah khurafat tanpa dasar.
Syaikh Al-Mu’allim berkata: “Kami dengan tegas menolak adanya bukti bahwa makam itu benar-benar ada di tempat tersebut, sebagaimana telah ditegaskan sebelumnya oleh sejumlah sejarawan.”
(Lihat: Al-Quburiyyah, hlm. 386)
Ziarah ke makam yang diklaim ini termasuk sebab terbesar rusaknya ajaran Islam dan dakwah tauhid yang dibawa Nabi ﷺ sepanjang hidupnya, serta mengganti agama yang benar dengan agama khurafat dan akidah yang rusak. Kolonial Inggris Kristen, pada masa pendudukan di Arab Selatan,
mendukung dan mendorong ziarah ini melalui agen-agen mereka hingga hari ini.
Makam Nabi Shaleh عليه السلام
Sejarawan Saleh Al-Hamid Ba‘Alawi berkata: “Di Hadramaut ada makam Nabi Shaleh yang terkenal dan diziarahi, terletak di lembah ‘Usnab’ di Wadi Sar. Saya sendiri pernah mengunjunginya dua kali bersama guru kami Al-‘Allamah Muhammad bin Hadi As-Saqqaf…” Ia menyebutkan bahwa perhatian besar terhadap makam ini mulai muncul pada abad ke-13 dan 14 Hijriah, terutama oleh Sayyid Umar Saqqaf Ash-Shafi. Ini menunjukkan bahwa orang itulah yang mungkin pertama kali “memperlihatkan” makam tersebut.
(Lihat: Al-Quburiyyah, hlm. 387-388)
Tidak ada bukti bahwa Nabi Shaleh pernah hidup di Hadramaut. Ini hanyalah kebohongan untuk menyesatkan manusia.
Hanzhalah bin Shafwan
Dikatakan sebagai nabi yang diutus ke Hadramaut. Padahal Ar-Razi menyebutkan makamnya di Sana’a, dan yang benar, Hanzhalah sama sekali bukan nabi.
(Lihat: Al-Quburiyyah, hlm. 390)
Ini menunjukkan upaya kaum sufi untuk memperbanyak tempat-tempat suci yang disembah di Hadramaut, sesuai agenda kolonial Kristen yang muncul belakangan.
Hadun bin Hud
Ada makam di desa Hadun, Wadi Du‘an. Orang-orang kuburiyyah Hadramaut mengarang bahwa ia adalah nabi. Ahmad bin Hasan Al-Attas bahkan mengklaim ada 35 nabi di Hadramaut.
(Lihat: Al-Quburiyyah, hlm. 390 & 393)
‘Ubadah bin Bisyr Al-Awsi Al-Anshari رضي الله عنه
Beberapa kitab sejarah Hadramaut yang ditulis dengan pena orientalis mengklaim ia menetap, wafat, dan dimakamkan di Hadramaut serta memiliki keturunan (keluarga Al-Khatib). Padahal sejarah yang sahih (Bukhari, Ibnu Atsir, Ibnu Katsir, Adz-Dzahabi, dll.) sepakat bahwa ia syahid di Perang Yamamah melawan Musailamah Al-Kadzab dan tidak memiliki keturunan.
(Lihat kitab “Asy-Syawahid Al-Jaliyyah” karya Al-Mudz-haji dan “Tahqiq Tarikhi Waqi‘ah Al-Lask” karya Syaikh Abdullah An-Nasyiri)
Ka‘ab bin Zuhair As-Sulami (pemilik qasidah “Banat Su‘ad”)
Diklaim wafat di Hadramaut dan dimakamkan di desa Al-‘Ajlaniyyah.
70 Sahabat Badar yang dimakamkan di pemakaman Tarim
Tidak ada satu pun sumber sejarah Perang Riddah yang menyebutkan hal ini. Jarak antara medan perang (Hishn An-Najir) dan Tarim sangat jauh. Tidak ada satu pun sahabat Badar yang disebutkan terbunuh di Hadramaut kecuali Ziyad bin Labid Al-Anshari.
(Lihat risalah “Hal Dapun fi Maqbarah Tarim Sab‘una Badriyyan?” karya Abu Abdurrahman Al-Mudz-haji)
Ahmad bin ‘Isa Al-Muhajir
Tokoh ini sama sekali tidak pernah memasuki Hadramaut, bahkan tidak pernah masuk Yaman. Klaim migrasi massal keluarga Alawiyyin pada tahun 317 H tidak dikenal dalam satu pun kitab sejarah, tarajim, atau ansab yang terpercaya. Terdapat kontradiksi besar: tahun kedatangan (317, 345, 540 H?), agama (Syafi’i atau Syiah?), peran (penyebar ilmu, pejuang Ibadi, atau penyebar tasawuf?), lokasi makam (Jisyir, Al-Husaisah, tidak diketahui, atau makam berbicara sendiri?).
(Lihat: Al-Kadzib Al-Muqit fi Id-di‘a An-Nasab ila Ali Al-Bait, hlm. 16; It-haf Ar-Ratut, hlm. 58; Al-Fikr wa Al-Mujtama‘, hlm. 280)
Alexander Knysh: “Seorang peneliti boleh meragukan keberadaan sejarah Ahmad bin Isa Al-Muhajir…”
‘Ubaidullah bin Ahmad bin ‘Isa
Tidak ada dalam silsilah keturunan Ahmad bin Isa yang sah. Nama ini sengaja dipilih karena umum di keturunan Ali bin Abi Thalib agar mudah dipalsukan.
Muhammad bin Ali Ba‘Alawi (Shahib Mirbath)
Tokoh yang penuh misteri, diklaim berperan besar dalam penyebaran madzhab Syafi‘i di Dhofar dan Hadramaut, padahal usianya sangat muda (wafat 656 H) dibanding murid-muridnya yang jauh lebih tua. Alexander Knysh juga meragukan klaim ini.
Abu Madin Syu‘aib Al-Maghribi dan kisah pengangkatan Muhammad bin Ali Ba‘Alawi (Al-Faqih Al-Muqaddam) oleh utusannya Abdullah Ash-Shalih – kisah penuh khurafat, ilmu ghaib, dan ketidaksesuaian tahun (Abu Madin wafat saat Al-Faqih Muqaddam masih berusia 16 tahun).
Yusuf bin ‘Abid Al-Fasi Al-Maghribi
Kisah perjalanan dari Maroko ke Hadramaut ditulis oleh Hasan bin Ali bin Syihab (w. 1332 H) atas nama pelancong Maroko – kemudian terbongkar sebagai karangan.
Tidak ada keturunan Abu Bakar Ash-Shiddiq di Hadramaut
Klaim nasab Al-‘Amudi ke Abu Bakar berdasarkan mimpi dan tanpa bukti.
Ya‘qub bin Yusuf, nasab Al-Bawazir, Al-Ishaq, Bajasir, dll. ke Abbas, Aqil, atau lainnya – semua tanpa bukti, hanya karangan untuk merusak nasab asli suku-suku Hadramaut.
Ahmad bin Abdullah Syinbal (penulis Tarikh Syinbal)
Tokoh fiktif, buku memuat peristiwa setelah kematiannya, nama Syinbal kontradiktif, tidak ada keluarga Syinbal di Hadramaut hingga hari ini.
Muhammad bin Umar Bafaqih Asy-Syahri (penulis Tarikh Asy-Syahr)
Tokoh tak dikenal, buku memuat peristiwa yang tidak terjadi atau terjadi jauh setelah zamannya.
Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Basanjilah (penulis Al-‘Aqd Ats-Tsamin)
Nama samaran, tidak ada sumber yang mengenalnya.
Abdul Qadir bin Syaikh Al-‘Aidarus (penulis An-Nur As-Safir)
Tokoh India yang tidak pernah ke Hadramaut, terjemahan dirinya sendiri penuh kebohongan kronologis.
Jalaluddin Al-Mahalli (penulis Tafsir Jalalain)
Diklaim mengambil ilmu dari Abu Bakar bin Salim di ‘Aynat, padahal Al-Mahalli wafat tahun 864 H sedangkan Abu Bakar lahir tahun 919 H.
Ja‘far bin Khalid Al-Barmaki (menteri Harun Ar-Rasyid)
Diklaim sebagai leluhur keluarga Bawazir.
Kesimpulan
Setelah kolonialisme menguasai negeri ini pada abad-abad terakhir, kehidupan berubah total. Agen-agen kolonial diberi kekuasaan besar untuk menyebarkan syirik, memperbanyak kuburan yang disembah, memalsukan sejarah, dan mengklaim nasab serta kekeramatan yang berlebihan. Tujuan akhirnya adalah menghapus sejarah Hadramaut yang asli dan menggantinya dengan sejarah palsu yang menguntungkan musuh dan menyeret masyarakat ke jurang kesesatan.
Ditulis oleh:
Abdullah bin Shaleh bin Ali Alu Abu Thalah Asy-Syarafi
5 Muharram 1446 H / 11 Juli 2024 M
Sejarawan Saleh Al-Hamid Ba‘Alawi berkata: “Di Hadramaut ada makam Nabi Shaleh yang terkenal dan diziarahi, terletak di lembah ‘Usnab’ di Wadi Sar. Saya sendiri pernah mengunjunginya dua kali bersama guru kami Al-‘Allamah Muhammad bin Hadi As-Saqqaf…” Ia menyebutkan bahwa perhatian besar terhadap makam ini mulai muncul pada abad ke-13 dan 14 Hijriah, terutama oleh Sayyid Umar Saqqaf Ash-Shafi. Ini menunjukkan bahwa orang itulah yang mungkin pertama kali “memperlihatkan” makam tersebut.
(Lihat: Al-Quburiyyah, hlm. 387-388)
Tidak ada bukti bahwa Nabi Shaleh pernah hidup di Hadramaut. Ini hanyalah kebohongan untuk menyesatkan manusia.
Hanzhalah bin Shafwan
Dikatakan sebagai nabi yang diutus ke Hadramaut. Padahal Ar-Razi menyebutkan makamnya di Sana’a, dan yang benar, Hanzhalah sama sekali bukan nabi.
(Lihat: Al-Quburiyyah, hlm. 390)
Ini menunjukkan upaya kaum sufi untuk memperbanyak tempat-tempat suci yang disembah di Hadramaut, sesuai agenda kolonial Kristen yang muncul belakangan.
Hadun bin Hud
Ada makam di desa Hadun, Wadi Du‘an. Orang-orang kuburiyyah Hadramaut mengarang bahwa ia adalah nabi. Ahmad bin Hasan Al-Attas bahkan mengklaim ada 35 nabi di Hadramaut.
(Lihat: Al-Quburiyyah, hlm. 390 & 393)
‘Ubadah bin Bisyr Al-Awsi Al-Anshari رضي الله عنه
Beberapa kitab sejarah Hadramaut yang ditulis dengan pena orientalis mengklaim ia menetap, wafat, dan dimakamkan di Hadramaut serta memiliki keturunan (keluarga Al-Khatib). Padahal sejarah yang sahih (Bukhari, Ibnu Atsir, Ibnu Katsir, Adz-Dzahabi, dll.) sepakat bahwa ia syahid di Perang Yamamah melawan Musailamah Al-Kadzab dan tidak memiliki keturunan.
(Lihat kitab “Asy-Syawahid Al-Jaliyyah” karya Al-Mudz-haji dan “Tahqiq Tarikhi Waqi‘ah Al-Lask” karya Syaikh Abdullah An-Nasyiri)
Ka‘ab bin Zuhair As-Sulami (pemilik qasidah “Banat Su‘ad”)
Diklaim wafat di Hadramaut dan dimakamkan di desa Al-‘Ajlaniyyah.
70 Sahabat Badar yang dimakamkan di pemakaman Tarim
Tidak ada satu pun sumber sejarah Perang Riddah yang menyebutkan hal ini. Jarak antara medan perang (Hishn An-Najir) dan Tarim sangat jauh. Tidak ada satu pun sahabat Badar yang disebutkan terbunuh di Hadramaut kecuali Ziyad bin Labid Al-Anshari.
(Lihat risalah “Hal Dapun fi Maqbarah Tarim Sab‘una Badriyyan?” karya Abu Abdurrahman Al-Mudz-haji)
Ahmad bin ‘Isa Al-Muhajir
Tokoh ini sama sekali tidak pernah memasuki Hadramaut, bahkan tidak pernah masuk Yaman. Klaim migrasi massal keluarga Alawiyyin pada tahun 317 H tidak dikenal dalam satu pun kitab sejarah, tarajim, atau ansab yang terpercaya. Terdapat kontradiksi besar: tahun kedatangan (317, 345, 540 H?), agama (Syafi’i atau Syiah?), peran (penyebar ilmu, pejuang Ibadi, atau penyebar tasawuf?), lokasi makam (Jisyir, Al-Husaisah, tidak diketahui, atau makam berbicara sendiri?).
(Lihat: Al-Kadzib Al-Muqit fi Id-di‘a An-Nasab ila Ali Al-Bait, hlm. 16; It-haf Ar-Ratut, hlm. 58; Al-Fikr wa Al-Mujtama‘, hlm. 280)
Alexander Knysh: “Seorang peneliti boleh meragukan keberadaan sejarah Ahmad bin Isa Al-Muhajir…”
‘Ubaidullah bin Ahmad bin ‘Isa
Tidak ada dalam silsilah keturunan Ahmad bin Isa yang sah. Nama ini sengaja dipilih karena umum di keturunan Ali bin Abi Thalib agar mudah dipalsukan.
Muhammad bin Ali Ba‘Alawi (Shahib Mirbath)
Tokoh yang penuh misteri, diklaim berperan besar dalam penyebaran madzhab Syafi‘i di Dhofar dan Hadramaut, padahal usianya sangat muda (wafat 656 H) dibanding murid-muridnya yang jauh lebih tua. Alexander Knysh juga meragukan klaim ini.
Abu Madin Syu‘aib Al-Maghribi dan kisah pengangkatan Muhammad bin Ali Ba‘Alawi (Al-Faqih Al-Muqaddam) oleh utusannya Abdullah Ash-Shalih – kisah penuh khurafat, ilmu ghaib, dan ketidaksesuaian tahun (Abu Madin wafat saat Al-Faqih Muqaddam masih berusia 16 tahun).
Yusuf bin ‘Abid Al-Fasi Al-Maghribi
Kisah perjalanan dari Maroko ke Hadramaut ditulis oleh Hasan bin Ali bin Syihab (w. 1332 H) atas nama pelancong Maroko – kemudian terbongkar sebagai karangan.
Tidak ada keturunan Abu Bakar Ash-Shiddiq di Hadramaut
Klaim nasab Al-‘Amudi ke Abu Bakar berdasarkan mimpi dan tanpa bukti.
Ya‘qub bin Yusuf, nasab Al-Bawazir, Al-Ishaq, Bajasir, dll. ke Abbas, Aqil, atau lainnya – semua tanpa bukti, hanya karangan untuk merusak nasab asli suku-suku Hadramaut.
Ahmad bin Abdullah Syinbal (penulis Tarikh Syinbal)
Tokoh fiktif, buku memuat peristiwa setelah kematiannya, nama Syinbal kontradiktif, tidak ada keluarga Syinbal di Hadramaut hingga hari ini.
Muhammad bin Umar Bafaqih Asy-Syahri (penulis Tarikh Asy-Syahr)
Tokoh tak dikenal, buku memuat peristiwa yang tidak terjadi atau terjadi jauh setelah zamannya.
Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Basanjilah (penulis Al-‘Aqd Ats-Tsamin)
Nama samaran, tidak ada sumber yang mengenalnya.
Abdul Qadir bin Syaikh Al-‘Aidarus (penulis An-Nur As-Safir)
Tokoh India yang tidak pernah ke Hadramaut, terjemahan dirinya sendiri penuh kebohongan kronologis.
Jalaluddin Al-Mahalli (penulis Tafsir Jalalain)
Diklaim mengambil ilmu dari Abu Bakar bin Salim di ‘Aynat, padahal Al-Mahalli wafat tahun 864 H sedangkan Abu Bakar lahir tahun 919 H.
Ja‘far bin Khalid Al-Barmaki (menteri Harun Ar-Rasyid)
Diklaim sebagai leluhur keluarga Bawazir.
Kesimpulan
Setelah kolonialisme menguasai negeri ini pada abad-abad terakhir, kehidupan berubah total. Agen-agen kolonial diberi kekuasaan besar untuk menyebarkan syirik, memperbanyak kuburan yang disembah, memalsukan sejarah, dan mengklaim nasab serta kekeramatan yang berlebihan. Tujuan akhirnya adalah menghapus sejarah Hadramaut yang asli dan menggantinya dengan sejarah palsu yang menguntungkan musuh dan menyeret masyarakat ke jurang kesesatan.
Ditulis oleh:
Abdullah bin Shaleh bin Ali Alu Abu Thalah Asy-Syarafi
5 Muharram 1446 H / 11 Juli 2024 M
Tidak ada komentar:
Posting Komentar