Rabu, 31 Desember 2025

Cerita khurofat dusta sayyid ahmad arrifa'i

 Cerita tentang **tangan Nabi Muhammad ﷺ keluar dari makam** untuk dicium (atau bersalaman) oleh **Syaikh Ahmad ar-Rifā’ī** memang sering dikaitkan dengan riwayat dari **Imam Jalaluddin as-Suyuthi** dan **Syaikh Abu al-Huda ash-Shayyadi** (atau al-Khalidi ash-Shayyadi, penulis **Qiladah al-Jawahir**). Namun, **klaim ini perlu diklarifikasi secara kronologis dan historis**, karena keduanya hidup **jauh setelah** kejadian yang diklaim terjadi.


Kronologi Wafat dan Jarak Waktu
Berikut perbandingan tahun wafat (Hijriah) dari tokoh-tokoh terkait:

- Syaikh Ahmad ar-Rifā’ī(pendiri tarekat Rifa’iyyah, yang konon mengalami karamah ini): wafat tahun 578 H (1182 M).

- Imam Jalaluddin as-Suyuthi (ulama besar, hafidz, penulis ratusan kitab): lahir 849 H, wafat 911 H (1505 M). 
  → Jarak dari wafatnya ar-Rifā’ī: sekitar 333 tahun kemudian.
- Syaikh Abu al-Huda ash-Shayyadi (penulis kitab Qiladah al-Jawahir fi Manāqib al-Awliyā’, yang sering disebut sebagai sumber utama karamah ar-Rifā’ī): hidup pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 M (wafat sekitar 1900-an M, atau sekitar 1320 H lebih). 
  → Jarak dari wafatnya ar-Rifā’ī: lebih dari 700 tahun kemudian.

**Kesimpulan waktu**: 
Kedua ulama yang disebut sebagai "perawi" (as-Suyuthi dan ash-Shayyadi) **tidak pernah hidup sezaman** dengan Syaikh Ahmad ar-Rifā’ī, apalagi menjadi saksi mata atau mendengar langsung dari murid-murid terdekatnya. Mereka hanya **mengutip cerita** yang sudah beredar di kalangan pengikut tarekat, ratusan tahun setelah kejadian yang diklaim (sekitar 555 H).

Siapa yang Melihat Langsung atau Tahu Cerita Ini di Era Dekat ar-Rifā’ī?
- Tidak ada satu pun ulama atau sejarawan kontemporer (era abad ke-6 H) yang mencatat kisah ini, meskipun ar-Rifā’ī cukup terkenal di Irak dan sekitarnya.
- Kitab Tabaqat as-Subki (karya Tajuddin as-Subki, w. 771 H — masih relatif dekat, sekitar 200 tahun setelah ar-Rifā’ī) memuji ar-Rifā’ī dengan menyebutkan berbagai karamah dan kezuhudannya (misalnya memotong lengan baju agar tidak mengganggu kucing, membiarkan nyamuk menghisap darah, dll), **tapi sama sekali tidak menyebut kisah tangan Nabi keluar dari kubur.
- Kitab sejarah Madinah klasik seperti **Wafā’ al-Wafā** (karya as-Samhudī, w. 911 H) juga tidak mencatat peristiwa ini, padahal jika benar terjadi di hadapan puluhan ribu orang (seperti klaim 12.000–90.000 saksi), pasti akan menjadi berita besar dan tercatat luas.
- Klaim "mutawatir" (disaksikan massal) juga tidak benar, karena riwayatnya tetap **ahad** (tunggal) dan muncul belakangan.

### Mengapa Cerita Ini Muncul Belakangan?
Cerita ini baru **menyebar luas** setelah abad ke-8/9 H, terutama melalui manaqib (biografi sufi) yang ditulis untuk mengagungkan tokoh tarekat. Banyak ulama (termasuk dari kalangan sufi sendiri) seperti **Syaikh Abdullah al-Ghumari**, **Syaikh Mahmud Syukri al-Alusi**, dan lembaga fatwa resmi (misalnya Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia & Mufti Perlis) menyatakan kisah ini **palsu/rekaan** (makhluqah/khurofat), karena:
- Bertentangan dengan dalil syar'i bahwa jasad Nabi ﷺ tetap di alam barzakh hingga kiamat (lihat hadits: "Aku adalah orang pertama yang dibangkitkan dari kuburnya pada hari kiamat" — HR Bukhari-Muslim).
- Tidak ada sanad yang sahih atau saksi langsung di era dekat.
- Digunakan untuk membanggakan tarekat, bukan berdasarkan bukti historis.

**Ringkasnya**: 
Imam as-Suyuthi (w. 911 H) dan ash-Shayyadi (abad 14 H) hanyalah **pengutip cerita turun-temurun**, bukan perawi atau saksi langsung. Yang benar-benar "dekat" dengan ar-Rifā’ī (abad 6 H) **tidak ada yang mencatat** kisah ini sama sekali. Oleh karena itu, cerita ini tetap diklasifikasikan sebagai **khurofat** yang tidak memiliki dasar kuat, meskipun populer di kalangan tertentu.

Semoga Allah menjaga kita dari cerita-cerita yang tidak jelas asal-usulnya, dan meneguhkan kita pada dalil yang shahih. Āmīn.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar