Syubhat yang sering muncul yaitu: “Kalau kamu menjelaskan bahwa perpecahan umat Islam disebabkan oleh **bid’ah** dan cerita-cerita **halu/berlebihan** (misalnya karomah yang dilebih-lebihkan, ghuluw kepada wali, dll), maka kamu dituduh sebagai **tukang pecah belah** umat” — ini adalah syubhat klasik yang sudah dibantah oleh para ulama sejak berabad-abad lalu.
Berikut penjelasan secara **fakta sejarah** dan **pernyataan ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah** (terutama dari kalangan yang diakui lintas madzhab):
### 1. Hadits Mutawatir tentang Perpecahan Umat
Rasulullah ﷺ sudah memprediksi dan memperingatkan hal ini secara jelas dalam hadits yang **mutawatir** (diriwayatkan oleh puluhan sahabat):
> «افترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة، وافترقت النصارى على اثنتين وسبعين فرقة، وستفترق أمتي على ثلاث وسبعين فرقة، كلها في النار إلا واحدة» قالوا: من هي يا رسول الله؟ قال: «من كان على مثل ما أنا عليه وأصحابي»
> “Orang Yahudi berpecah menjadi 71 golongan, Nasrani 72 golongan, dan umatku akan berpecah menjadi **73 golongan**, semuanya di neraka kecuali satu.” Para sahabat bertanya: “Siapa yang satu itu?” Beliau menjawab: “Yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.”
> (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan lainnya; dinilai hasan-shahih oleh mayoritas ulama)
**Penjelasan ulama** tentang golongan yang selamat (al-firqah an-najiyah):
- **Imam Asy-Syathibi** (w. 790 H): Golongan yang selamat adalah yang berpegang teguh pada **Al-Qur’an, Sunnah, dan manhaj Salaf** tanpa tambahan bid’ah yang menyimpang.
- **Ibnu Taimiyah** (w. 728 H): Perpecahan terjadi karena **bid’ah** dan **fanatisme golongan** (hizbiyyah), bukan karena mengikuti kebenaran.
- **Syaikhul Islam** juga menegaskan: Ahlus Sunnah adalah yang mengikuti Sunnah dan menjauhi bid’ah, bukan yang menciptakan jamaah baru berdasarkan syakhshiyyat (tokoh tertentu) atau amalan baru yang tidak ada dasarnya.
### 2. Bid’ah adalah Sebab Utama Perpecahan Menurut Ulama
Mayoritas ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa **bid’ah** (terutama bid’ah dalam agama yang dianggap ibadah tanpa dasar) adalah **penyebab utama** perpecahan umat sepanjang sejarah:
- **Ibnu Taimiyah** (Majmu’ Fatawa): “Perpecahan umat yang menimpa para ulama, masyayikh, dan umara adalah karena **bid’ah** dan **fanatisme** kepada pendapat atau tokoh tertentu.”
- **Imam Asy-Syafi’i** (w. 204 H) — yang dikutip Ibnu Taimiyah: Bid’ah ada dua: bid’ah dhalalah (sesat) yang menyalahi Al-Qur’an, Sunnah, ijma’, dan atsar salaf → ini yang menjadi sumber perpecahan.
- **Syaikh Abdullah al-Ubailan** (ulama kontemporer): “Sebab utama perpecahan adalah **sikap sektarian** (bergolong-golongan pada kelompok atau sosok tertentu selain Rasulullah dan sahabat), serta **bid’ah** yang menyelisihi aqidah sahihah.”
- **Imam Nawawi** dan **Al-Ghazali** juga mengakui bahaya bid’ah dalam aqidah dan ibadah, meski mereka lebih longgar dalam bid’ah ‘adiyyah (kebiasaan duniawi).
**Fakta sejarah**:
- Khawarij → muncul karena bid’ah takfir berlebihan → memecah umat di zaman Ali bin Abi Thalib.
- Mu’tazilah & Syi’ah Rafidhah → bid’ah dalam aqidah (penolakan qadar, ghuluw kepada Ahlul Bait) → menyebabkan perpecahan besar.
- Di masa modern: berbagai kelompok yang mengagungkan karomah tertentu secara berlebihan (ghuluw), mengklaim wali bisa menentang syariat, atau memaksakan cerita karomah yang lemah → sering memicu perpecahan karena ada yang memaksa “harus percaya kalau tidak fasiq/kafir”.
### 3. Menjelaskan Bahaya Bid’ah Bukan Tukang Pecah Belah, Justru Menjaga Persatuan
Para ulama justru **memerintahkan** untuk menjelaskan bahaya bid’ah demi menjaga **persatuan di atas kebenaran** (bukan persatuan di atas kebatilan):
- **Ibnu Taimiyah** tegas menulis puluhan kitab membantah bid’ah dan ghuluw, tapi beliau tetap dikenal sebagai pembela persatuan umat di atas Sunnah.
- **Syaikhul Islam** berkata: “Menasehati dengan cara bijak dan kembali ke Al-Kitab & Sunnah adalah jalan persatuan. Siapa yang menolak nasehat ini justru yang memecah belah.”
- **Ulama salaf** seperti Imam Ahmad bin Hanbal, ketika membantah bid’ah mihnah (penciptaan Al-Qur’an), beliau difitnah sebagai “tukang rusak” tapi tetap teguh karena itu demi menjaga aqidah umat.
**Kesimpulan ringkas**:
| Tuduhan | Realita menurut Ahlus Sunnah | Dalil/Ulama pendukung |
|------------------|-------------------------------------------------------|------------------------------------------------|
| Menjelaskan bahaya bid’ah & cerita halu = tukang pecah belah | **Salah** — justru **menjaga persatuan** di atas Sunnah | Hadits 73 golongan, Ibnu Taimiyah, Asy-Syathibi |
| Diam terhadap bid’ah demi “persatuan” | **Salah** — ini persatuan palsu yang membiarkan kesesatan | Firman Allah: “Dan janganlah kamu berpecah belah” (QS. Ali Imran:103) tapi setelah “berpegang teguh pada tali Allah” |
| Yang memecah belah sebenarnya | Orang yang **menciptakan bid’ah** lalu memaksakan pengikutannya | Ibnu Taimiyah: “Bid’ah dan hizbiyyah adalah akar perpecahan” |
Jadi, kalau ada yang menuduhmu “tukang pecah belah” hanya karena menjelaskan bahaya **bid’ah**, **ghuluw** kepada wali/karomah, atau cerita halu yang tidak terverifikasi, maka ingatkan saja:
**Yang memecah belah adalah yang mempertuhankan bid’ah dan cerita halu, bukan yang mengajak kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah dengan cara hikmah.**
Wallahu a’lam. Semoga Allah menjaga hati kita dari fitnah perpecahan dan ghuluw.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar