Tulisan guru gembul 👇
Assalamualaikum B. Selamat datang kembali di Guru Gembul Channel. Jangan potong video ini dengan tujuan yang buruk ya. Saya ingin mewartakan sesuatu yang sangat ironi dan mungkin paradoks di negeri ini. Jadi baraya tentu saja mengetahui ada sebuah narasi besar di Indonesia bahwa kalau kita mau selamat dunia dan akhirat maka dekatlah dengan para ulama. Semakin dekat kita dengan ulama semakin dekat kita masuk surga. Semakin jauh dari para ulama maka semakin tersesatlah kita. Kita akan jadi orang yang sesat, kita akan jadi orang yang zalim, kita akan jadi orang yang terpinggirkan dalam agama kalau kita jauh dari ulama. Begitu kan? Saya pikir itu adalah sebuah narasi yang umum diterima oleh masyarakat kita. Tapi apakah baraya sadar bahwa di dunia nyata hal yang terjadi itu justru adalah hal yang sebaliknya. Semakin baraya dekat dengan ulama, maka semakin besar potensi baraya akan tersesat. Dan semakin jauh baraya dari ulama, maka semakin besar kesempatan baraya untuk lepas dari jalur ketersesatan. Kok bisa seperti itu? Saya jelaskan argumentasinya begini, Baraya. Kalau baraya adalah orang yang sangat baik, baraya suka menyantuni fakir miskin. Baraya juara Olimpiade Sence, baraya menjadi penemu dan memberikan kontribusi positif buat para petani, buat para pengusaha. Pokoknya baraya itu adalah orang yang baik, santun, sabar, baik hati, tidak pernah kena skandal dan sebagainya. Dan baraya adalah orang yang sangat dekat dengan Ustaz Khalid Basalamah misalkan ya. Maka baraya tetap akan dituding sesat. Betapapun kebaikan Baraya kayak gimana, Baraya akan dituding sesat. Karena apa? Karena musuh-musuh Ustaz Khalid Basalamah itu banyak dan mereka menuding Ustaz Khalid Basalamah dan siapapun yang dekat dengannya itu pasti adalah orang sesat. Begitu kan? Sebaliknya, baraya adalah orang ahli maksiat. Baraya tukang judi, baraya tukang zina, baraya mabuk-mabukan. Tapi baraya tidak akan disebut sesat kalau baraya tidak berafiliasi dengan kelompok tertentu. Misalkan, misal ini mah misal ya Pak Bahlil misal ini mah bukan menuduh, tapi misalkan misalkan Pak Bahlil itu adalah orang yang suka zina, orang yang suka mabuk, orang yang suka ee cabul misalkan begitu. Dia tidak akan ditudih sesat. Tidak akan kalau dia tidak berafiliasi atau tidak menegaskan identitas kelompok dengan agama tertentu atau dengan kelompok agama tertentu gitu kan. Coba ada artis-artis yang berzina, yang kumpul kebo, yang tukang fitnah, yang tukang ngejelekin orang, enggak pernah mereka dituding sesat dan menyesatkan. Yang dituding sesat dan menyesatkan itu adalah orang apa? Orang yang baik tapi dekat dengan ulama. orang yang baik tapi dekat dengan ee Ustaz Adi Hidayat itu bisa kena framing. Wah, ini mah orangnya gini gini gini gini. Nah, karena Ustaz Adi Hidayat sendiri kan ya memang kontroversial. Makanya coba silakan cek ya. Saya sebutkan beberapa daftar ulama atau dai yang terkemuka di Indonesia. Saya sebutkan ya Ustaz Abdul Somad. Nah, itu ada yang menudingnya sesat karena tidak pakai jenggot. Kemudian Ustaz Adi Hidayat itu sesat karena mentolelir adanya musik. Kemudian eh Habib Jafar dianggap sesat karena apa? Karena orang Syiah laknatullah alaih. Kemudian Aagim itu dianggap sesat karena mengajarkan sufisme yang ngacau. Kemudian ada Ustaz Khalid Basalamah sesat karena dia Wahabi. Kemudian Ustaz Felixo itu sesat karena dia HTI. Kemudian Gus Baha itu sesat karena dia mencampurkan antara sufi yang aneh-aneh dengan feodalisme Jawa. Kemudian Buya Syakur itu juga sesat karena dia liberal. Quraisyi hab itu sesat karena anak-anaknya tidak berhijab dan lain sebagainya. Nah, tudingan-tudingan sesat itu justru adalah tudingan kepada para ulama, pada orang-orang yang dekat dengan agama. Baraya cek e konten-konten YouTube itu ya yang banyak itu yang yang ngaku ustaz, yang ngaku santri, yang ngaku ah banyak sekali di Indonesia. Nah, isinya itu bukan ajakan untuk ngajak melakukan hal yang baik, bukan. Bukan untuk menjauhi kemaksiatan. bukan. Tapi nah kelompok itulah yang sesat dan menyesatkan. Orang ini telah kafir, orang ini dan sebagainya. Om Salafi tahu apa? Wah, yang nganu mah selalu seperti ini dan sebagainya. Jadi mereka itu bukan fokus pada kemaksiatan, bukan fokus pada kebajikan, bukan fokus pada nilai-nilai agama, tapi penafsiran kelompok mereka pada agama. Jadi benar dan salah bukan terkait dengan kemaksiatan, bukan terkait pada dosa, tapi terkait pada pemikiran seseorang. Baraya orang Syiah bisa diusir dari kampung halamannya walaupun baraya sama sekali tidak melakukan tindakan jahat. Tapi kalau baraya maling besi di Madura itu baraya masih ditolelir sama masyarakat gitu. Nah, kenapa bisa kenapa bisa seperti itu? Kenapa ada fenomena aneh yang seperti itu? Ya, karena sudah sering saya paparkan bahwa orang-orang di seluruh dunia Islam khususnya di Indonesia sekarang mereka tuh punya penyakit asobiah. Penyakit ini adalah penyakit yang paling dibenci dan salah satu dosa paling besar dalam ruang lingkup Islam yaitu fanatik golongan. Mereka marah karena golongan. Mereka berbakti karena golongan bukan karena agama. Bukan karena nilai-nilai kebajikan, bukan karena nilai-nilai moral. Seperti yang dijelaskan kemarin-kemarin itu ketika ada korupsi haji semuanya diam-diam saja karena korupsi. Ketika ada aksi terorisme semuanya diam-diam saja karena apa? Karena terorisme. Ketika ada pencabulan, ada penyimpangan seksual, semuanya bungkam, semuanya diam. Tapi bagian kelompoknya di tuding itu marahnya bisa sampai menggeruduk instansi media yang sangat besar. Semua kemaksiatan tolelir. Tapi kalau pemikirannya berbeda dengan kelompoknya, itu kriminal yang bahkan bisa mendorong seseorang melakukan pembunuhan, fitnah, persekusi kepada pihak yang dianggap menjadi lawannya. Coba beraya ingat-ingat kasus Gus Dur. Gus Dur itu pernah dituding sesat dan menyesatkan. Apakah gara-gara beliau korupsi? Bukan. Apakah gara-gara beliau cabul? Bukan. Bukan itu. Tapi gara-gara apa? Gara-gara pemikirannya dianggap liberal. Dia buta matanya, dia buta hatinya, dan dia sesat dan menyesatkan. Bukan karena tindakan kriminal, tapi gara-gara dia itu pemikirannya berbeda. Coba Baraya cek, misalkan ada Ustaz Firanda gitu ya yang suka dakwah ya gitulah. Kenapa dia dianggap sesat dan menyesatkan dalam agama? Apakah dia pernah tersandung kasus korupsi? Tidak. Apakah dia pernah mencabuli santrinya juga tidak. Apakah dia pernah malakin orang juga tidak. Nah, tapi dia dianggap sesat, menyesatkan dan berbahaya itu karena pemikirannya berbeda dengan kelompok. Begitu Baraya cek mau Gus Baha, mau Ustaz Felixiao dan para pengikutnya itu lebih berpotensi dituding sesat daripada ahli maksiat yang sesungguhnya. Inilah yang melatari alasan kenapa semakin religius sebuah negara, semakin susah dia untuk maju. Semakin religius sebuah negara semakin besar angka korupsinya. Semakin besar angka kriminalitasnya. Semakin besar pelecehan terhadap kemanusiaannya. Di Indonesia, di Timur Tengah katanya Islamnya sangat kuat, tetapi apa? Korupsinya meraja lela. di Amerika Selatan, Amerika Latin itu Katoliknya kuat sekali. Tapi apa yang terjadi di sana? Kartel narkobanya gila-gilaan. Ya, karena apa? Karena agamawan-agama sekarang itu fokus untuk mengomentari pemikiran orang lain, menghakimi pemikiran orang lain, tapi bukan menghakimi perbuatannya. Baraya punya pemikiran aja. punya pemikiran itu dihakimi sama orang lain. Emang apa sih hak dia untuk menghakimi pemikiran kita gitu? Coba apa? Kan cuman pemikiran, cuman berpikir, tapi mereka itu langsung menghakimi ini gini, ini gini, ini gini, ini masuk neraka, ini masuk surga, ini dan sebagainya tanpa ada kaitan dengan kriminalitas tertentu. Ustaz Quraisyhab atau Kiai Quraisyhab gitu misalkan atau Habib Quraisy Hab gitu, dia mengajarkan perdamaian, dia mengajarkan kebaikan hanya gara-gara pemikirannya menganggap bahwa hijab itu tidak wajib, langsung diboikot. hati-hati, jangan ikut pengajian itu karena dia anaknya aja enggak pakai hijab apalagi. Kan itu soal penafsiran dia terhadap teks-teks kitab suci dan dia sama sekali tidak melakukan kejahatan. Nah, inilah yang membuat kita tuh jauh dari agama kita sendiri. Karena justru semakin kita dekat dengan agama semakin dituding sesat. Makanya pada akhirnya pada akhirnya solusinya ya solusinya solusi saya itu dianggap sesat padahal ini sesuai dengan Quran dan sunah. Kalau ada perdebatan di antara baraya semua, di antara kaum muslimin semuanya, maka yang harus dilakukan itu adalah apa? Kembali kepada Quran dan sunah. Sesimpel itu. Tapi perkataan saya ini pun akan dituding macam-macam bahwa itu adalah perkataan yang sesat dan sebagainya. Karena apa? Ya walaupun ngikutin Quran dan sunah, tapi kalau pemikirannya seperti itu enggak sesuai dengan golongan mereka, sesat. Maka pemikiran Quran dan sunah itu harus sesuai dengan tafsiran kami. Nah, kalau gitu baru benar. Coba cek baraya baca Quran dan sunah. itu baraya bisa dianggap nanti tersesat karena ini Al-Qur'an dan sunah kan susah dimengerti. Baraya tidak tersesat kalau sesuai dengan pemikiran mereka gitu. Coba kita misalkan kembali ke dalam Quran dan sunah ya. Apa sih sebenarnya yang diperintahkan sama Quran dan diperintahkan sama sunah? Nih saya bacain satu-satu ya. E berbuat baik kepada orang lain. Jangan sombong dan congkak. Maafkanlah kesalahan orang lain. Ini yang di dalam Al-Qur'an ya. Ee kemudian berbicara dengan nada halus dan sopan. Kemudian rendahkan suara kamu. Jangan mengejek orang lain. Berbakti kepada orang tua. Jangan mengeluarkan kata-kata yang tidak menghormati orang tua. Jangan memasuki kamar pribadi orang tua tanpa izin. Catat hutang-hutang kamu. E jangan mengikuti orang membabi buta. Jangan taklid buta gitu ya. Kemudian berikan toleransi kepada yang berhutang kepadamu. Kemudian jangan makan riba, jangan korupsi, jangan ingkar janji. Kemudian jaga kepercayaan orang lain kepadamu. Kemudian jangan campur adukan kebenaran dengan kebohongan. Kemudian berlaku adillah kepada semua manusia dan lain sebagainya. Nah, ajaran Quran tuh begini semuanya. Jadi, baraya cek aja. Baraya silakan cek baca ya. Kalau sama mereka tuh enggak boleh kecuali lihat bimbingan dari mereka. Tapi baraya cek aja baca itu perintahnya sesederhana itu, larangannya juga sesederhana itu. Tapi justru sama kelompok-kelompok itu tuh di diabaikan mereka melakukan itu semua. Jadi misalkan mereka congkak, mereka melakukan persekusi, mereka melakukan framing, mereka melakukan fitnah, mereka kata-katanya kasar luar biasa. Tapi ngaku beragama. Sedangkan yang diajarkan di dalam Al-Qur'an sama mereka semuanya ditentang. kasus korupsi mereka pelakunya, [tertawa] pencabulan mereka pelakunya. Tapi mereka mem-framing orang lain, menghakimi orang lain hanya berdasarkan pemikirannya. Makanya coba baraya pikirkan baik-baik. Seberapa besarnya bahaya dari asabiyah ini? Dan kata-kata saya ini juga tetap akan ditentang bukan gara-gara saya melakukan tindakan kriminal, bukan. Tapi karena saya bertentangan dengan pemikiran dari golongannya. Terima kasih karena sudah menyimak. Saya guru gembul. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.
Komentar + koreksi :
1. Ashobiyah itu ada 2 pemaknaan
- ta'assub pada yang haq itu benar
- ta'assub pada yang bathil salah
maksudnya fanatik pada kebenaran wajib. Misalnya seorang bilang hijab gak wajib maka wajib ditegur. Bukan karena benci orangnya tapi dengan tujuan nasehat. Jika tetap pada pelanggaran itu maka wajib dilakukan peringatan supaya gak melenceng. Contoh lain seperti orang ngaku muslim tapi gak sholat fardhu maka wajib dinasehatin. Kalau gak nerima ya sudah tetap pada kesabaran tetap nasehat sampai kembali ke jalan yang benar.
2. Ikut ulama tambah sesat! nah ini tergantung ulamanya. Masalahnya gak ada perintah mutlak mengikuti ulama. Perintah mutlak hanya taat kepada Allah , Rasulnya dan ulil amri. Ulil amri adalah khalifah dan pemimpin yang diberi tanggung jawab mengurusi umat. Adapun ulama fungsi mereka terbatas pada penyebaran ilmu, tajdid masyarakat (ishlah) dan dakwah. Ulama gak punya banyak alat seperti penguasa. Taat pada ulil amri sendiri sebatas pada hal yang makruf bukan hal yang munkar karena ulil amri tidak maksum. Jika ada ulama yang amburadul berarti ada yang salah dalam niat sejak awal.
3. Guru gembul perlu tahu bahwa kita tidak bisa lepas dari peran ulama. Para ulama punya peran. Nah apakah mereka teladan? belum tentu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar